Seorang perempuan memberkati sapi yang dihiasi kalung bunga gumitir pada hari Tumpek Kandang
Kepulauan Cerita · esai

Tumpek Kandang.
Hari ketika Bali berterima kasih kepada hewan.

Malwina Marcińczak · konservator-sejarawan seniKisah dari Indonesia · №2

Di Bali, yang sakral jarang terkurung di balik tembok pura. Ia hadir di rumah, di sawah, di tepi jalan, di air yang mengalir dari mata air.

Ia menyertai manusia saat lahir, tumbuh dewasa, dan meninggal. Ia merangkul pepohonan, tanah, benda-benda sehari-hari – juga hewan.

Salah satu hari ketika hal ini terlihat begitu jelas adalah Tumpek Kandang, yang disebut juga Tumpek Uye – hari suci Bali yang dipersembahkan bagi hewan.

Pada hari itu, sesajen kecil muncul di depan rumah dan peternakan. Orang Bali menyiapkannya untuk hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan mereka: sapi, babi, ayam, bebek, anjing, dan kucing. Hewan-hewan dimandikan, dihias, dan diberkati secara simbolis. Di dekat kandangnya diletakkan banten – rangkaian daun lontar, bunga, nasi, dan persembahan lainnya.

Banten – sesajen dari daun lontar, bunga gumitir, dan nasi di atas nampan
Banten – daun lontar, bunga, dan nasi, disiapkan juga untuk hewan

Namun ini bukan "hari hewan" dalam pengertian Eropa.

Rasa syukur, bukan pesta

Tumpek Kandang pertama-tama adalah hari syukur kepada Tuhan atas dunia hewan dan tempat mereka dalam kehidupan manusia. Dalam tradisi Bali, hari ini terkait dengan pemujaan manifestasi Ilahi yang dikenal sebagai Sang Hyang Pasupati. Ia dirayakan pada hari Sabtu Saniscara Kliwon wuku Uye menurut kalender Pawukon Bali. Siklusnya berulang setiap 210 hari.

Sekilas, hewan-hewanlah yang paling menarik perhatian. Sapi dengan hiasan tergantung di lehernya. Anjing yang duduk di samping keranjang kecil berisi sesajen. Babi di peternakan yang sesaat sebelumnya diasapi dupa.

Seorang perempuan membawa nampan berisi banten
Sesajen dibawa ke pura – kerja tangan yang di Bali tak pernah berhenti
Asap dupa di atas sesajen di halaman pura Bali
Asap dupa di atas sesajen – sesaat sebelum pemberkatan

Namun makna sejati Tumpek Kandang tersembunyi lebih dalam.

Ia mengingatkan bahwa di Bali manusia tidak hidup di luar alam – ia adalah bagian darinya.

Selama berabad-abad hewan membantu manusia bekerja, memberi makanan, menjaga ladang, dan sekadar hidup di samping manusia. Karena itu pada hari ini orang Bali secara simbolis berhenti sejenak untuk berterima kasih atas kehadiran itu. Para peneliti budaya Bali menunjukkan bahwa Tumpek Kandang juga membawa pesan kepedulian terhadap hewan, perlindungannya, serta tanggung jawab manusia atas lingkungan tempat semua makhluk hidup bersama.

Justru di sinilah Tumpek Kandang bercerita tentang Bali jauh lebih banyak daripada banyak kompleks pura yang megah.

Dunia yang dikisahkan lewat hubungan

Sebab Hindu Bali menceritakan dunia melalui hubungan.

Hubungan manusia dengan Tuhan.
Manusia dengan sesama manusia.
Dan manusia dengan alam.

Inilah gema salah satu gagasan terpenting Bali – Tri Hita Karana, pencarian keselarasan antara alam Ilahi, manusia, dan dunia di sekitarnya. Dalam kenyataan ini, hewan bukan sekadar bagian dari lanskap, bukan pula sumber daya yang boleh dipakai manusia tanpa batas. Ia adalah bagian dari tatanan yang lebih besar.

Seorang perempuan lanjut usia berdoa saat fajar di depan gerbang pura
Doa pagi di depan pura – hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam

Mungkin karena itulah, saat berkeliling Bali, ada baiknya sesekali berhenti memandang hanya upacara-upacara besar.

Tidak selalu perlu berada di antara ratusan orang di pura, menyaksikan prosesi, atau mendengar gamelan untuk memahami sesuatu yang penting tentang pulau ini.

Kadang cukup berhenti di depan sebuah rumah kecil.

Mencium wangi dupa.

Melihat seorang perempuan menata sesajen dari bunga dan nasi.

Di sampingnya, seekor sapi berdiri tenang.

Seorang perempuan meletakkan canang sari di trotoar depan toko
Canang sari di depan toko – yang sakral tak terkurung di balik tembok pura
Tangan memegang bunga di antara jari dalam sikap berdoa
Bunga di antara jari – gerakan yang menutup setiap doa

Dan memahami bahwa ritual yang kita saksikan sesungguhnya berbicara tentang satu prinsip yang sangat sederhana:

Jika manusia mengambil dari dunia, ia juga harus tahu cara berterima kasih kepadanya.

Tumpek Kandang adalah ucapan terima kasih semacam itu.

Bukan hanya kepada hewan.

Kepada seluruh tatanan kehidupan – yang manusia, setidaknya dalam pandangan dunia Bali, tidak pernah menjadi satu-satunya pemiliknya.

Malwina Marcińczak
Malwina Marcińczak, MA konservator-sejarawan seni · pendiri Art Bali Travel Kenali Malwina →

Baca juga

Lanjutkan membaca — secara langsung

Kisah-kisah terbaik dari Indonesia dibaca dengan hadir di sana.

Lihat perjalanan mendatang → Kembali ke Kepulauan Cerita