Sumatra • Mentawai • Weh — 22 hari / 21 malam di antara hutan, roh, dan samudra. Ada tempat yang terletak di ujung jalan. Ada pula yang hanya bisa dicapai lewat sungai, perahu, dan jalan setapak hutan. Ekspedisi ini pergi tepat ke sana.
Selama 22 hari kita akan melintasi tiga pulau luar biasa dan beberapa dunia Indonesia yang sama sekali berbeda.
Kita memulai di Sumatra Barat, di antara pegunungan, sawah, dan rumah-rumah Minangkabau yang menakjubkan — masyarakat yang rumah keluarga dan warisannya diturunkan melalui garis perempuan dari generasi ke generasi. Lalu kita berlayar ke Siberut. Di sana aspal menghilang, perahu menggantikan mobil, dan sungai menjadi jalan yang membawa kita jauh ke dalam dunia Mentawai. Selama beberapa hari kita akan hidup berdampingan dengan komunitas setempat, mengenal rumah tradisional uma, simbolisme tato, kehidupan di hutan, dan para sikerei — penyembuh sekaligus pembimbing spiritual masyarakat Mentawai.
Kembali ke Sumatra, kita terbang ke utara pulau. Di hutan Gunung Leuser kita berangkat bersama pemandu lokal untuk menjumpai orangutan Sumatra yang hidup di alam liar. Kita juga mencapai Aceh — daerah dengan identitas yang luar biasa kuat, yang sejarahnya ditandai selamanya oleh tsunami 2004. Hari-hari terakhir kita habiskan di pulau hijau Weh — di antara teluk, terumbu karang, hutan, dan perairan hangat yang mengelilingi ujung utara Sumatra.
Ini bukan perjalanan untuk mencentang satu tempat demi tempat lainnya. Kami ingin mendengar kisahnya sebelum mengambil fotonya. Memahami mengapa rumah Minangkabau menjadi milik kaum perempuan, apa yang dituturkan tato Mentawai, dan mengapa bagi masyarakat Siberut hutan jauh lebih dari sekadar kumpulan pohon. Kita akan bepergian dengan nyaman di mana pun memungkinkan — hotel yang baik, transportasi pribadi, kapal cepat, dan penerbangan domestik. Di Kepulauan Mentawai kita dengan sengaja meninggalkan sebagian kenyamanan itu. Karena ada tempat-tempat yang tak bisa dikenali dari balik jendela mobil ber-AC.
Harga tidak termasuk penerbangan internasional antara Polandia dan Indonesia, maupun visa Indonesia.
Tiba di Padang, di pesisir barat Sumatra. Transfer ke hotel, check-in, dan istirahat setelah perjalanan. Menginap: Padang
Setelah sarapan kita menuju pegunungan dengan transportasi pribadi. Kita singgah di air terjun Lembah Anai dan melihat contoh-contoh pertama arsitektur Minangkabau yang khas. Sore hari kita tiba di Bukittinggi. Berjalan-jalan menyusuri kota dan sekitar menara Jam Gadang yang tersohor. Menginap: Bukittinggi
Hari yang dipersembahkan untuk salah satu budaya paling memikat di Sumatra. Kita mengunjungi rumah gadang tradisional dan mengenal masyarakat yang tanah, rumah keluarga, dan warisannya secara turun-temurun diwariskan melalui garis perempuan. Ada waktu untuk arsitektur, kerajinan setempat, kuliner, dan perjumpaan dengan orang-orang. Menginap: Bukittinggi
Kita berangkat ke Lembah Harau yang spektakuler. Sawah, air terjun, desa-desa kecil, dan dinding batu yang menjulang membentuk salah satu lanskap paling khas Sumatra Barat. Kita singgah untuk melihat seperti apa kehidupan sehari-hari di sana. Menginap: Bukittinggi
Kita kembali menuju pesisir. Sepanjang jalan, lebih banyak perjumpaan dengan lanskap dan budaya Sumatra Barat. Malam hari, persiapan untuk bagian perjalanan kita yang paling bernuansa ekspedisi. Menginap: Padang
Pagi-pagi sekali kita naik kapal cepat ke Siberut. Setibanya di pulau, cara kita bepergian berubah: transportasi lokal, perahu, sungai, dan hutan. Kita mencapai sebuah komunitas Mentawai. Sejak saat ini, selama beberapa hari, kita hidup dalam kondisi lokal yang sederhana. Menginap: Mentawai — uma tradisional / rumah penduduk
Hari penuh pertama kita di dunia Mentawai. Kita mengenal rumah tradisional uma, keseharian para penghuninya, dan cara memandang dunia yang di dalamnya manusia, hutan, leluhur, dan alam roh tetap terjalin menjadi satu. Kami tidak ingin sekadar mengamati. Kami ingin mendengarkan. Menginap: Mentawai
Salah satu hari terpenting dalam seluruh ekspedisi. Kita berjumpa dengan para sikerei — penyembuh tradisional sekaligus pembimbing spiritual masyarakat Mentawai. Kita belajar tentang makna tumbuhan yang digunakan komunitas, ritual-ritual lama, dan tato mereka yang khas. Menginap: Mentawai
Hari ini kita sebagian menyerahkan diri pada irama tempat ini. Kita menemani tuan rumah dalam keseharian mereka: menyiapkan makanan, bekerja, bergerak menembus hutan dan menyusuri sungai. Kita tidak menjadwalkan setiap jamnya. Menginap: Mentawai
Satu hari penuh lagi di Siberut. Waktu untuk perjumpaan-perjumpaan berikutnya, berjalan kaki, dan memahami hubungan antara manusia dan hutan yang mengelilingi mereka. Menginap: Mentawai
Kita berpamitan dengan masyarakat Mentawai. Dengan perahu dan transportasi lokal kita kembali ke pelabuhan, lalu menyeberang kembali ke Padang dengan kapal cepat. Setelah beberapa hari dalam kondisi sederhana, kita kembali ke hotel yang nyaman. Malam bebas. Menginap: Padang
Setelah sarapan, transfer ke bandara. Bentangan panjang Sumatra kita tempuh dengan pesawat. Setelah mendarat di Medan, kita berkendara dengan transportasi pribadi ke Bukit Lawang, di tepi Taman Nasional Gunung Leuser. Menginap: Bukit Lawang
Kita berangkat bersama pemandu lokal ke dalam hutan hujan. Tujuan kita adalah mengamati orangutan Sumatra di habitat aslinya. Hutan, vegetasi tropis, dan trekking di salah satu ekosistem terpenting Asia Tenggara. Menginap: Bukit Lawang
Setelah trekking, kita memperlambat langkah. Kita menjelajahi sekitar Bukit Lawang, desa-desa setempat, dan kehidupan sehari-hari. Ada pula waktu untuk beristirahat, dengan aktivitas opsional bagi yang berminat. Menginap: Bukit Lawang
Transfer pribadi ke bandara Medan. Kita terbang ke Banda Aceh, menghindari perjalanan darat berjam-jam melintasi Sumatra utara. Setibanya, transfer ke hotel. Menginap: Banda Aceh
Kita menjelajahi daerah dengan identitas dan sejarah yang luar biasa kuat. Kita melihat Masjid Raya Baiturrahman yang monumental dan tempat-tempat yang terkait dengan tsunami 2004. Kita mengunjungi Museum Tsunami — tempat yang bertutur tentang bencana, manusia, ingatan, dan pembangunan kembali kota. Menginap: Banda Aceh
Setelah sarapan, transfer ke pelabuhan. Kita menyeberang ke Pulau Weh dengan kapal cepat. Setelah pegunungan, kota, sungai, dan hutan, irama perjalanan kita berubah. Di hadapan kita — samudra. Menginap: Pulau Weh
Kita naik perahu ke perairan di sekitar pulau kecil Rubiah. Terumbu karang, snorkeling, ikan tropis, dan waktu di tepi air. Setelah bagian ekspedisi yang intens, kita mulai melambat. Menginap: Pulau Weh
Kita menjelajahi Pulau Weh dari daratan. Hutan, permukiman setempat, lanskap vulkanik, dan pantai. Kita juga mencapai Kilometer Nol — ujung barat simbolis Indonesia. Menginap: Pulau Weh
Satu hari lagi di atas air. Dengan perahu kita menuju teluk-teluk dan titik snorkeling di sekeliling pulau. Tanpa terburu-buru, dan tanpa perjalanan darat yang panjang. Menginap: Pulau Weh
Hari penuh terakhir ekspedisi ini milik Anda. Pantai, snorkeling, menyelam opsional, berjalan-jalan, tempat tidur gantung — atau sekadar waktu di tepi samudra. Menginap: Pulau Weh
Setelah sarapan, kapal cepat kembali ke Banda Aceh. Transfer ke bandara. Akhir ekspedisi kita bersama.
Ini adalah program bergaya ekspedisi. Urutan masing-masing titik dapat berubah karena cuaca, kondisi setempat, serta jadwal kapal dan penerbangan domestik. Jadwal transportasi untuk 2027 harus dikonfirmasi ulang sebelum ekspedisi berlangsung.
★★★☆☆ sedang / di beberapa titik menantang
Anda tidak perlu menjadi atlet atau memiliki pengalaman trekking. Yang Anda butuhkan adalah kebugaran fisik dasar, keterbukaan terhadap kondisi perjalanan yang berbeda, dan kesiapan menghadapi beberapa hari yang lebih menantang. Sebagian besar ekspedisi berlangsung nyaman — transportasi pribadi, hotel yang baik, penerbangan domestik, dan kapal cepat, dengan perjalanan darat panjang yang sengaja dibatasi seminimal mungkin.
Bagian paling menantang dari ekspedisi ini adalah Siberut dan hari-hari bersama masyarakat Mentawai:
Trekking di Gunung Leuser juga menuntut kebugaran dasar. Namun, ini bukan ekspedisi ekstrem — tidak ada perjalanan kaki berhari-hari dengan ransel berat, dan tidak ada pendakian.
Jumlah ini adalah pilihan yang disengaja. Di Kepulauan Mentawai kami tidak ingin datang sebagai rombongan wisata besar. Grup kecil memudahkan penggunaan perahu dan transportasi setempat — dan yang terpenting, memungkinkan perjumpaan yang sesungguhnya dengan orang-orang. Kami ingin punya waktu untuk duduk, berbincang, mendengarkan, bertanya, dan kadang sekadar bersama-sama.
Untuk orang-orang yang penasaran akan dunia. Untuk mereka yang tertarik bukan hanya pada apa yang akan dilihat, tetapi juga mengapa sebuah tempat tampak dan berjalan seperti adanya.
Untuk orang-orang yang terbuka terhadap budaya, kepercayaan, dan cara hidup yang lain. Untuk mereka yang sanggup menukar ranjang hotel dengan kasur dan kelambu selama beberapa hari, sadar bahwa justru itulah yang membawa mereka ke tempat-tempat yang tak pernah dijangkau pariwisata biasa. Untuk orang-orang yang tak terganggu oleh lumpur di sepatu, perahu alih-alih mobil, dan kenyataan bahwa kadang cuaca, sungai, atau laut — bukan jam — yang menentukan langkah selanjutnya.
Pada saat yang sama, di mana pun kenyamanan bisa dihadirkan, kami menghadirkannya. Setelah tahap-tahap yang lebih menantang kita kembali ke hotel yang baik, dan jarak jauh kita tempuh dengan pesawat, bukan dengan seharian penuh di dalam mobil.