Pura air di Bali
Kepulauan Cerita · esai

Bali di Balik Bingkai.
Antara Sekala dan Niskala.

Malwina Marcińczak · konservator-sejarawan seniKisah dari Indonesia · №1

Bali bisa dilihat dalam beberapa hari. Memahaminya butuh waktu jauh lebih lama.

Citra pulau ini di masa kini telah diambil alih oleh pariwisata: beach club, hotel mewah, kolam renang yang menggantung di atas lembah, dan bingkai-bingkai yang sama, yang setiap hari digandakan di media sosial. Bali yang itu nyata — tetapi ia hanyalah salah satu lapisannya. Di baliknya terbentang dunia yang jauh lebih tua dan lebih rumit, dunia tempat agama, alam, komunitas, dan kehidupan sehari-hari tidak berjalan secara terpisah.

Setelah bertahun-tahun kembali ke Indonesia secara teratur, saya semakin jarang tertarik pada pertanyaan: apa yang wajib dilihat di Bali? Jauh lebih menarik adalah pertanyaan lain: apa sebenarnya yang sedang kita lihat — dan mampukah kita membaca makna dari apa yang kita pandang?

Antara Sekala dan Niskala

Salah satu kunci untuk memahami Bali terletak pada gagasan sekala dan niskala. Yang pertama merujuk pada dunia yang terlihat dan bersifat material; yang kedua pada apa yang tak kasatmata dan spiritual. Namun keduanya bukanlah dua realitas yang terpisah. Dalam cara orang Bali memandang dunia, keduanya saling berjalin tanpa henti.

Itulah sebabnya sebuah gunung bisa sekaligus menjadi bagian dari bentang alam dan ruang yang suci; air menjadi sumber daya yang mutlak bagi penanaman padi sekaligus bagian dari praktik keagamaan; dan sesajen kecil yang diletakkan di depan sebuah toko menjadi sesuatu yang sewajar dimulainya hari kerja yang baru.

Anda bisa melihatnya pada canang sari yang dihaturkan setiap hari — sesajen kecil yang dianyam dari janur, bunga, dan persembahan lainnya. Bagi pendatang, canang sari pertama-tama tampak indah. Bagi orang Bali, maknanya tidak berhenti pada estetika. Ia adalah bagian dari upaya harian menjaga keseimbangan antara manusia dan dunia yang mengelilinginya.

Canang sari — sesajen bunga harian orang Bali
Canang sari — keseimbangan harian antara yang terlihat dan yang tak terlihat

Justru di sinilah salah satu garis terpenting membentang — antara memandang Bali dan berusaha memahaminya.

Permukaan milik pariwisata. Kedalaman milik kebudayaan.

Bentang Alam yang Menyimpan Makna

Gagasan orang Bali tentang keselarasan terangkum dengan baik dalam Tri Hita Karana — konsep yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam spiritual, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Ia pun bukan sekadar gagasan filosofis. Dimensi materialnya dapat dilihat dalam sistem subak — cara tradisional mengelola air secara kolektif di seluruh persawahan. Saluran air, bendung, petak sawah, komunitas petani, dan pura air membentuk satu sistem tunggal, tempat ekonomi, kehidupan sosial, dan agama mengalir satu ke dalam yang lain.

Justru karena itulah, pada 2012, UNESCO mencatatkan lanskap budaya sistem subak Bali dalam Daftar Warisan Dunia. Yang dilindungi di sini bukan sebuah monumen tunggal, melainkan bentang alam yang dibentuk oleh hubungan berabad-abad antara manusia, air, agama, dan tanah.

Cara berpikir yang sama kita temukan dalam penempatan pura. Pura Besakih, kompleks pura terpenting di Bali, berdiri di lereng Gunung Agung. Kesucian gunung dan kesucian pura tidak berdiri sendiri-sendiri. Ruang yang satu memberi makna pada ruang yang lain.

Lihat di peta: Pura Besakih

Tenganan. Sejarah yang Tertulis dalam Kain

Salah satu tempat yang sangat memikat adalah Tenganan Pegringsingan, kampung halaman masyarakat Bali Aga.

Lihat di peta: Tenganan Pegringsingan

Di sinilah geringsing dibuat — salah satu tekstil paling khas di Indonesia, ditenun dengan teknik ikat ganda (double ikat). Artinya, sebelum penenunan dimulai, benang lungsin maupun benang pakan harus diwarnai menurut rancangan yang presisi, dan mewujudkan pola yang dikehendaki menuntut ketelitian luar biasa.

Namun yang paling menarik bukanlah semata-mata sulitnya kerajinan ini. Geringsing mengemban makna sosial dan ritual, dan pengetahuan tentang pembuatannya diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi seorang konservator seni, benda seperti ini lebih dari sekadar kerajinan tangan. Ia adalah sebuah sumber — rekaman material dari kebudayaan, tidak kalah dari lukisan, patung, atau karya arsitektur.

Pariwisata pun telah sampai di Tenganan, karena itu saya tidak akan menyebut desa ini “tak tersentuh”. Jauh lebih menarik adalah mengamati bagaimana komunitas setempat menjaga tradisinya tetap hidup sambil menjalani hidup di dunia yang kian besar minatnya kepada mereka.

Ketika Pulau Ini Terdiam

Hubungan antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat terasa begitu kuat pada saat Nyepi, Hari Raya Kesunyian orang Bali yang membuka tahun baru dalam kalender Saka.

Selama dua puluh empat jam, seluruh pulau mengubah cara kerjanya. Jalan-jalan lengang, aktivitas dibatasi, usaha-usaha tutup, dan bandara menghentikan lalu lintas penumpangnya yang biasa. Bagi wisatawan, ini bisa menjadi pengalaman yang luar biasa, tetapi Nyepi bukanlah atraksi wisata. Ia adalah waktu untuk hening, merenung, dan menyucikan diri.

Di dunia tempat kita telah menundukkan hampir segalanya pada kecepatan, ketersediaan, dan konsumsi tanpa henti, salah satu pulau yang paling banyak dikunjungi di muka bumi berhenti hampir sepenuhnya selama satu hari penuh.

Pengalaman itu mengubah cara Anda memandang Bali lebih daripada yang mampu dilakukan banyak monumen.

Hal yang sama berlaku bagi Ngaben, upacara kremasi. Kematian di sini tidak diungkapkan semata-mata lewat keheningan dan pengasingan diri. Ia diiringi arak-arakan, bangunan-bangunan berhias mewah, musik gamelan, dan kebersamaan warga. Kremasi berkaitan dengan pembebasan jiwa dari tubuh material, dan dengan perjalanannya yang berlanjut dalam siklus keberadaan.

Hanya dengan mengenal praktik-praktik semacam ini kita mulai memahami mengapa Bali tidak bisa direduksi menjadi kumpulan pura dan pemandangan indah. Apa yang kita lihat hanyalah permukaan material dari sistem makna yang jauh lebih besar.

Upacara di sebuah pura Bali saat senja
Upacara — kebersamaan, musik, dan makna-makna yang tak tertampung dalam bingkai

Pulau di Bawah Tekanan

Namun, saya tidak ingin melukiskan satu lagi gambaran romantis tentang “Bali yang sesungguhnya”. Pulau ini berubah dengan kecepatan yang luar biasa, dan pariwisata adalah salah satu kekuatan utama di balik perubahan itu.

Di selatan, pembangunan yang padat, tekanan investasi, kemacetan lalu lintas, kebutuhan air yang meningkat, dan volume sampah yang terus bertambah semakin terlihat. UNESCO, dalam menguraikan perlindungan lanskap subak, juga menunjuk pada kerentanannya terhadap perubahan dan pada perlunya pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab.

Ini tidak berarti pariwisata semata-mata ancaman. Contoh yang berbicara banyak dapat ditemukan di Pemuteran, di pesisir barat laut Bali.

Lihat di peta: Pemuteran

Sejak awal tahun 2000-an, proyek pemulihan terumbu karang dengan teknologi Biorock dikembangkan di sana. Struktur logam yang ditempatkan di bawah air menjadi substrat tempat terumbu dapat tumbuh. Yang terpenting adalah karakter lokal dari upaya ini — keterlibatan komunitas yang hidupnya juga terikat pada pariwisata.

Pemuteran dengan demikian menunjukkan kemungkinan yang lain: pariwisata bisa menekan sebuah tempat, tetapi bila diarahkan dengan baik, ia juga bisa ikut melindunginya.

Tak jauh dari sana terletak Pulau Menjangan, bagian dari Taman Nasional Bali Barat.

Lihat di peta: Pulau Menjangan

Saya mencintai tempat ini karena satu alasan lagi. Di sana, manusia berhenti menjadi unsur utama bentang alam. Terumbu karang, laut, dan dunia yang hidup kembali memegang kendali — dan kita hanya menjadi tamu.

Bali di Balik Bingkai

Bali yang serupa saya cari di Sidemen, di Munduk, dan di pesisir timur, di Amed.

Sidemen Munduk Amed

Bukan karena tempat-tempat ini “belum ditemukan”. Tidak demikian. Pariwisata hadir di sana, dan mereka pun berubah. Tetapi tempat-tempat ini memungkinkan Anda melihat proporsi yang berbeda.

Di Sidemen, bentang persawahan masih terikat erat dengan kehidupan komunitas setempat. Munduk memperlihatkan wajah pulau ini yang sama sekali berbeda, wajah pegunungan — lebih sejuk, ditanami kopi dan cengkih. Amed, dengan pantai vulkaniknya, perahu-perahu jukungnya, dan siluet Gunung Agung yang menguasai cakrawala, mengingatkan betapa beragamnya sebuah pulau yang luasnya nyaris tak lebih besar dari sebuah metropolis raya di Eropa.

Fajar di atas terasering sawah dan desa pegunungan
Bentang alam yang menyimpan makna — sawah yang masih terikat dengan kehidupan komunitasnya

Namun kadang-kadang, untuk memahami Bali dengan lebih baik, ada baiknya meninggalkannya sejenak.

Seberangi selat menuju Jawa dan dunia berubah hampir seketika. Agama dominan yang berbeda, arsitektur yang berbeda, bahasa ruang dan irama jalanan yang lain — semuanya mengingatkan bahwa Bali hanyalah bagian kecil dari Indonesia yang luas dan luar biasa beragam.

Tak jauh dari Banyuwangi terletak Kawah Ijen.

Lihat di peta: Kawah Ijen

Blue fire yang tersohor — api biru yang sering keliru disebut “lava biru” — sesungguhnya adalah efek gas belerang yang terbakar saat keluar dari rekahan-rekahan vulkanik.

Detail kecil — tetapi ia merangkum cara bepergian yang paling menarik bagi saya. Tidak cukup hanya menyaksikan sebuah fenomena luar biasa. Ada baiknya juga mengetahui apa persisnya yang sedang kita pandang.

Belajar Membaca Sebuah Tempat

Setelah bertahun-tahun bepergian, saya pun memahami kemewahan secara berbeda. Bagi saya, kemewahan tidak lagi sekadar hotel, kolam renang pribadi, atau pantai yang terpencil.

Kemewahan menjadi waktu — dan akses kepada pengetahuan.

Kesempatan untuk tinggal di sebuah tempat cukup lama hingga sempat mengintip lapisan keduanya. Untuk memahami mengapa pura itu berdiri persis di sini, apa makna pola pada kain, mengapa sesajen muncul di depan rumah setiap pagi — dan mengapa gunung di cakrawala bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar bagian bentang alam.

Maka saya tidak mencari “Bali yang sesungguhnya”, karena tidak ada satu versi tunggal darinya.

Bali beach club itu nyata. Begitu pula Bali persawahan, upacara, hotel mewah, pura, kemacetan, ponsel pintar, dan sesajen harian.

Sekala dan Niskala. Yang terlihat dan yang tak terlihat.

Realitas-realitas ini hidup berdampingan, dan justru ketegangan di antara keduanyalah yang paling memikat saya. Karena itulah, setiap kali kembali ke Indonesia, semakin sulit bagi saya untuk berkata: “Saya kenal Bali”.

Saya lebih suka berkata: saya sedang belajar, semakin baik dan semakin baik, untuk membacanya.

Dan tentang itulah Kisah dari Indonesia akan bercerita — bukan hanya tentang tempat-tempat yang layak dilihat, tetapi terutama tentang apa yang layak diketahui sebelum Anda memandangnya.

Malwina Marcińczak
Malwina Marcińczak, MA konservator-sejarawan seni · pendiri Art Bali Travel Kenali Malwina →

Sumber & bacaan lanjutan

Lanjutkan membaca — secara langsung

Kisah-kisah terbaik dari Indonesia dibaca dengan hadir di sana.

Lihat perjalanan mendatang → Kembali ke Kepulauan Cerita